Keharmonisan

Ada sebuah penelitian paling mutakhir yang menyebutkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga:
Pada tahun pertama, istri yang bicara dan suami yang mendengarkan.
Tahun kedua, suami yang bicara dan istri yang mendengarkan.
Tahun ketiga, suami istri sama-sama bicara dan tetangga yang mendengarkan.
Anda boleh saja meragukan kebenaran penelitian diatas. Namun mari kita buktikan, ketika kita mencintai seseorang maka tampaklah kesempurnaannya, dia begitu anggun, cantik, baik hati, enak diajak ngobrol.
Begitu menikah, ketidaksempurnaan terlihat didepan mata, menyebalkan, cerewet dan pelitnya minta ampun.
Lantas bagaimana membuat semuanya terlihat indah?
Kuncinya adalah memahami kesempurnaan pasangan hidup kita terletak kepada ketidaksempurnaannya.
Seperti pasangan pengantin baru yang sedang menikmati kebersamaannya mereka mendengarkan suara, kuek..kuek…
‘Dengar suara itu pasti suara ayam,’ kata istri.
‘Bukan, itu suara bebek sayang..’jawab suaminya.
‘Nggak, aku yakin itu suara ayam,’ kata istrinya dengan sewot.
Suaminya dengan perkasanya menjelaskan bahwa suara ayam itu kukuruyuk…sedangkan suara bebek itu kuek..kuek.
Tak lama kemudian terdengar suara, kuek..kuek..! ‘Tuh kan suara bebek,’ kata suaminya. ‘Bukan, itu suara ayam.’
kata istrinya dengan menghentakkan kakinya dan wajahnya yang cemberut.
‘Kamu ini..jelas-jelas suara bebek dibilang ayam,’ suara suaminya terdengar tinggi menahan amarah.
Istrinya dengan isak tangis mengatakan, tapi itu kan suara ayam..!’
Sang suami menyadari air mata istrinya yang mengalir sebuah kesalahan dirinya.
Dengan ucapan yang lembut suaminya mengatakan, ‘Maafkan aku sayang, memang benar itu suara ayam.’
Istrinya memeluk dengan mesra suaminya dan terdengar suara ‘kuek..kuek’ mengiringi perjalanan cinta mereka menikmati indahnya mahligai pernikahannya.
Pesan cerita diatas, siapa sih yang peduli dengan ayam atau bebek? Yang paling penting menjaga keharmonisan didalam rumah tangga. Berapa banyak keluarga yang gagal gara-gara ‘ayam atau bebek?
Pernikahan jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dan terkadang kita merasa yakin diri kita benar namun dikemudian hari terbukti bahwa kita yang salah.
Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. [HR. al-Hakim].
sumber : email

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s